Bandung, kota dengan segudang kreativitas musik yang tidak akan pernah habis dimakan usia. Siapa yang meragukan? Berbagai band menarik telah lahir di kota kembang ini. Entah dari tongkrongan warung, kampus, atau sekolah sekalipun. Jikalau temen ngeBLUR melewatkan era-era hidupnya scene musik di Bandung, saya kira temen ngeBLUR menjadi salah satu orang yang akan menyesal seumur hidup. Salah satunya konser The Paps kemarin (10/12) yang digelar di IFI Bandung. Saya sendiri bukan termasuk orang asli Bandung—mahasiswa rantau—yang ngekos di pinggiran Jatinangor. Apa daya, daripada akhir minggu pulang kampung ke rumah, saya lebih memilih untuk datang ke salah satu konser band Jamaican Sound kenamaan asal Bandung ini.

 

Konser The Paps, bukanlah alasan konser yang harus temen ngeBLUR lewatkan di akhir pekan. Hari Sabtu itu diawali dengan pagi yang terang benderang, kemudian di siang harinya black-white mode terjadi, dan di sore menjelang malam datang lah segerombolan air yang mengeroyok bumi tak henti-henti. Tentu saja, seberapa banyak pun tetes air mengeroyok bumi hari itu, saya akan tetap menghajar untuk mencari kesenangan dan kerinduan The Paps. Bagi kalian yang tau sama lirik ini, pasti akan rindu dengan bebunyian ala Jamaica:

 

 

“Jauh dari nyata

 Padam sejenak realita

Aku ingin sesuatu yang berbeda

Lepas dari keseharian yang ada

Bawa aku melintas cahaya

Dan pecah menembus asap nirwana

Rasakan seluruh semesta

Berdansa menari bersama”

 

Ya, penggalan lirik The Paps tersebut menjadi salah satu nomor yang dibawakan pada Konser The Paps kemarin. Saya tidak akan membahas panjang lebar soal lirik ataupun materi musik The Paps. Sudah lama sekali rasanya tidak ada media yang membahas band Jamican Sound satu ini. Sampai pada akhirnya, mereka menggelar konser setelah sekian lama tidak mem-rakab (baca: bakar) suasana Bandung dengan bebunyian khas Jamaika tersebut. Pasti pun temen ngeBLUR tau alasannya kenapa saya memilih menulis review konser The Paps. Daripada saya mengablu terus, berikut sedikit review konser The Paps kemarin!

 

Tepatnya pada tanggal 10 Desember 2016 (kemarin) hari yang paling ditunggu bagi semua pecinta The Paps. Kuartet “Jamaican Sound” asal bandung yang terdiri dari, Dave (vocal), Daniel (guitar), Andrie (bass), Ganjar (drums) menggelar konser tunggal perdananya untuk merayakan 13 tahun mereka berkarya. Bertempat di Institut Français d’Indonésie (IFI) – Bandung, gelaran konser dimulai pukul 9 malam, rasanya terlalu larut untuk menikmati sebuah konser. Persetan dengan waktu, bagi crowd yang hadir, jam 9 masih terasa pagi untuk menikmati sebuah konser. Konser The Paps bagi saya bukan hanya sekedar gelaran gigs akhir pekan biasa, namun juga sebagai ajang untuk bertemu kawan lama sesama pecinta musik The Paps.

 

 

Saya kira, pecinta The Paps hanya berkisar kalangan muda usia 17-23—usia yang menginjak dunia kampus—namun berbagai kalangan tua (tidak terlalu tua-tua amat sebenarnya) pun turut meramaikan konser The Paps malam itu. Tentu saja berbagai muka yang saya anggap “sebagai”-nya di kota Bandung pun turut hadir ingin merasakan kembali usia muda. Terdengar candaan, celotehan dari para penonton yang menunggu gate dibuka. Tidak afdol rasanya kalau perayaan kembali konser The Paps—setelah sekian lama—tidak tercium bebauan semerbak aroma bahan alamiah yang identik dengan masyarakat Jamaika. Sudah sewajarnya begitu, sesekali saya menghirup pasif asap yang bertebaran di sekitar saya (hehehe).

 

Rasanya,hujan saat itu menjadi lebih hangat karna adanya fenomena yang sangat jarang terjadi. Daripada itu, di sekitar gate pun terdapat lapakan merch dari The Paps mulai dari rilisan fisik hingga t-shirt yang mungkin bisa dibilang langka untuk didapatkan di toko-toko kehidupan skena musik seperti Omunium dan lain sebagainya.

 

 

Tepat jarum jam menunjukan pukul 9 malam, penonton pun bergerombol memasuki gate yang disediakan oleh panitia, tentunya ada aturan yang di berikan pantia. Dilarang merokok dan “rokok lainnya” pun turut dilarang. Tentu saja demi kekondusifan konser, kita semua pun bisa senang bareng-bareng menikmati sajian The Paps malam itu.

 

Bukan sulap euy. Tidak lama setelah gerombolan pecinta The Paps memasuki gate, penonton langsung dimanjakan oleh alunan Jamaican Sound khas dari The Paps. Tidak hanya musik saja yang bermain, gemerlap megahnya lampu sebagai pelengkap konser kali ini pun turut membuat keseruan konser malam itu berjalan dengan cihuy! Menolak untuk diam tak bergerak itu bohong jika datang ke konsernya The Paps. Semua penonton pun berdansa mengikuti alunan musik dari The Paps. Sound yang khas dari gitar, lead, bass, dan drum membuat penonton menggila, berdansa, pecah, tumpah, blaratan—apalah itu—pada nyatanya konser ini begitu menyenangkan!

 

Crowd pun bergejolak seperti air yang mendidih, seperti belajar untuk hidup di neraka—abaikan imajinasi saya—namun keseruan crowd memang begitu sepertinya. Panasnya suasana tidak membuat penonton beranjak dan pergi keluar dari crowdnya, mereka semakin bingar untuk membuat crowd tetap hidup. “Kalian adalah energi yang membuat kami untuk terus main disini dan berkarya selama 13 tahun”, ujar Dave (vokalis The Paps).

 

 

Dibuka melalui lagu yang up-beat dengan suara khas “rock steady-nya” dan di bagian tengah-tengah konser diisi oleh lagu yang membuat “yoman” banget deh pokonya. Beberapa lagu dari mereka juga, ada part dimana bass memakai bass betot yang bikin berotot kalo terus menerus dimainkan. Ngahiung-nya efek gitar itu bukan berarti noise dan bukannya tidak layak untuk didengarkan tetapi The Paps menyulap sampah suara itu jadi layak untuk didengar. Lagu-lagu yang mereka bawakan merupakan lagu yang ada di album pertama dan album kedua mereka seperti “Life Is A Big Joke”; “Hang Loose Baby”; “Have Fun Around”; “Perlahan Tenang”; dan masih banyak lagi lainnya. Total 20 lagu saya rasa sangat membuat puas para pecinta musik The Paps. Disisi lain, setelah mereka lama tidak terdengar di panggung-panggung kawasan Bandung dan sekitarnya, dengan konser tunggal ini saya anggap The Paps sangat sukses memuaskan para crowd. Yowman! Sukses buat The Paps kedepannya, teruslah berkarya di bumi ini dan terimakasih juga sudah memberikan sajian konser begitu luar biasa!