2016-music-review

Banyak yang terjadi di tahun 2016. Dari kejadian-kejadian unik yang menarik, hingga kejadian yang menyedihkan, semua ada di tahun ini. Segala fenomena budaya populer dan kejadian-kejadian di ranah politik yang udah kita lewatin, kita semua pasti punya mixed feelings tentang 2016. Walaupun begitu, satu yang kita semua yakin, 2016 bisa dibilang menjadi salah satu tahun baik untuk belantika musik pada dekade ini. Oleh karena itu, kami dari tim Music Director BLURadio, menyusun rekomendasi-rekomendasi album terbaik tahun setiap bulannya, check them out!

 

JANUARI

1

Death of a Bachelor //  Panic! At the Disco

Untuk pemanasan di tahun 2016, adalah Death of a Bachelor dari Panic! At The Disco yang emang cocok untuk jadi starter pack 2016. Setelah ditinggal oleh drummer Spencer Smith, band rock asal Amerika ini hanya tersisa satu personil tetap saja yaitu sang vokalis Brendon Urie. Namun, hal itu nggak membuat Brendon patah semangat. Brendon mendapatkan bantuan dari banyak musisi keren, dari mulai Dan Wilson (Semisonic), Rivers Cuomo (Weezer) sampe para personil band legenda, B-52.

Komposisi lagunya hampir seperti album sebelumnya (Too Weird to Live, Too Rare to Die) yang khas Panic! at the Disco, namun ada beberapa lagu yang memiliki nuansa berbeda seperti pada track “Death Of a Bachelor” yang bernuansa khas lagu-lagu Frank Sinatra gitu. Walaupun dengan keluarnya Spencer Smith membuat gebukan drum pada lagu-lagunya terasa kurang, tapi album kelima dari P!ATD ini terbilang sukses secara komersil dan dinominasikan sebagai Best Rock Album pada Grammy Awards ke-59. Kalo kamu udah sering denger “Death Of A Bachelor”, cobain juga dengerin “Hallelujah”, “Emperor’s New Clothes”, dan “L.A. Devotee” deh! (Adi Agustha)

 

 

FEBRUARI

2

TEEN // Love Yes

The long wait is over! Yes… TEEN is back with their new studio album, Love Yes! Menutup tahun 2015 kemarin dengan tur mereka dengan Will Butler dari Arcade Fire, bulan ini TEEN mengeluarkan Album Love Yes yang diberi predikat album terbaik mereka sejauh ini.

Band kakak beradik asal Lieberson ini masih konsisten dengan jalur alternative rock yang kental dengan nuansa synthpop. Atmosfir elektronik layaknya Chairlift dan The Bird and the Bee dapat kamu rasakan di album Love Yes. Selain itu, album ini juga terdengar enerjik sekaligus klasik, serta diimbuhi dengan beberapa riff gitar dan bass yang ceria. Dengan total 12 lagu yang akan membuatmu berdansa di tempat, Love Yes merupakan salah satu rilisan terbaik tahun ini. Cukup dengarkan “Tokyo,” “All About Us,” dan “Free Time,” dan kamu akan jadikan album ini sebagai salah satu favoritmu! (Yuanda Lestari)

 

 

MARET

3

Miike Snow // iii

Album ketiga dari trio indie electropop ini merupakan salah satu rekomendasi album 2016 yang perlu kamu denger dan milikin. Trio yang terdiri dari Andrew Wyatt dan juga Bloodshy & Avant ini emang nggak ada habisnya. Di album iii ini, Miike Snow nawarin estetika dan suara yang bisa dibilang comparable dengan dua album sebelumnya, tapi, itulah yang buat album ini perfect buat jadi kelanjutan Miike Snow (2009) dan juga Happy to You (2012). Di track awal, “My Trigger” pendengar udah dikasih sedikit taste dari album ini. Permainan synthesizer yang ada di album ini terasa seimbang dengan iringan beats yang jinak dan permainan-permainan instrumen lainnya yang nggak kalah hebat; komposisi setiap permainan instrumen terasa bijak. Suara Andrew Wyatt, dengan penggunaan headvoice nya, juga mampu membawa kamu sampai ke “Longshot (7 Nights),” track terakhir dari album ini. Setiap aspek pada album ini diposisikan secara tepat sehingga ngehasilin tracks hebat seberti “The Heart of Me,” “Genghis Khan,” dan “Heart is Full.” Album ini pantas buat kalian coba dengerin. (Farhan Baridwan)

 

 

APRIL

4

Adhitia Sofyan // Silver Painted Radiance

Jika diibaratkan dengan fashion style, Adhitia Sofyan selalu cukup nyaman bergaya casual hanya dengan t-shirt dan jeans dalam penampilannya sehari-hari. Kali ini, ia pun akhirnya berani untuk menambahkan aksesoris semisal jaket bomber dan mengganti celana jeans-nya dengan chino, tanpa menghilangkan gaya casual yang menjadi identitas dirinya. Hal itulah yang terjadi di album keempatnya yaitu Silver Painted Radiance. Album ini merupakan album pertamanya yang ‘meninggalkan’ kamar dan direkam di dalam studio rekaman pro dengan tidak hanya mengandalkan petikan gitarnya saja. Bentuk full band pun telah memberikan balutan yang berbeda tanpa menghilangkan ciri khas seorang Adhitia Sofyan.

Oh iya, sama seperti album-album sebelumnya juga, album ini juga rilis di Jepang loh! Memiliki lirik penuh makna tentang kehidupan dan cinta dengan komposisi yang fresh, kamu pun pasti masih merasa ‘tersentuh’ mendengar lagu-lagunya seperti “Loneliest Days” dan “Agony of Defeat”. Meskipun Adhitia ‘menjanjikan’ hanya album ini yang akan memiliki format seperti ini, patut kita ‘rayu’ deh kalo di album selanjutnya ia mengulangi eksperimennya lagi. Enjoy the new taste of him! (Ezy Ramanedia)

 

5

Gallant // Ology

Ology merupakan debut album dari musisi asal Colombia yaitu Gallant. Meskipun ini merupakan album pertama, tetapi album ber-genre alternative R&B ini berhasil masuk ke dalam nominasi Grammy 2017 dalam kategori Best Urban Contemporary Album bersama dengan Beyoncé dan Rihanna. Salah satu singlenya, “Weight in Gold”, can make you fall in love with his angelic voice right away! Dalam album ini, Gallant juga berkolaborasi dengan Jhené Aiko di lagu yang berjudul “Skipping Stones”,  dan kalian bisa denger suara falsetto Gallant yang bikin geleng-geleng kepala. “Bone + Tissue”, “Bourbon” dan “Talking To Myself” adalah lagu wajib yang harus kalian dengerin di album ini! (Roshan Ghaisani)

 

MEI

6

Ariana Grande // Dangerous Woman

Sempat sebelumnya akan diberi nama Moonlight, Ariana Grande merubah direksi dan estetika dari album ketiganya. Di album sebelumnya, My Everything, Ariana bawain lagu-lagu yang dibalut dengan aransemen musik pop yang market-friendly. Walau di album ini masih ada lagu-lagu garapan Max Martin dan kolaborasi dengan beberapa rapper ulung seperti Nicki Minaj dan ‘Lil Wayne, ada yang beda dengan karya nya yang satu ini. Dalam sekali putaran, album ini emang terdengar layaknya album Ariana Grande biasanya, namun kali ini, penyanyi belia ini terdengar lebih berani dan ngerti apa yang dia lakuin. Dengan tracks provokatif kayak “Side to Side” dan “Dangerous Woman,” yang super sentimental kayak “Moonlight,” dan “Leave Me Lonely,” dan bahkan di tracks santai kayak “Be Alright,” telah terbukti kalau Ariana doesn’t hold back. (Farhan Baridwan)

 

7

James Blake // The Color in Anything

One thing that we always believe, James Blake never goes wrong! And he did it again! Tidak ada yang meragukan musikalitas James Blake, sehingga penyanyi asal London ini didaulat sebagai salah satu musisi jenius di generasinya. Dengan nuansa elektronik yang kental yang dibalut dengan perpaduan nada-nada dari synthesizer dan piano, lirik yang brilian ditambah kualitas vokal yang sempurna, setiap lagu dalam album ini terasa sangat matang. Tracks seperti “Modern Soul” dan “I Need a Forest Fire” yang digarap dengan Justin Vernon dari Bon Iver membuat kita kesulitan untuk mencari kekurangan dari album ini. Setiap track di album ini terdengar sangat kuat dan digarap secara matang. Good job James(Yuanda Lestari)

 

 

JUNI

8

Peonies // Landscape

Tenggelam diantara musik indie pop yang banyak bermunculan, Peonies, band asal Bandung yang terbilang baru tiba-tiba datang dengan musik catchy serta sound gitar twangy yang terdengar sangat khas. Sementara band-band indie lainnya telah menawarkan jenis musik yang terkesan itu-itu ajaPeonies becomes a standout. Tentu ini bisa disebut sebuah achievement untuk band yang belum berumur setahun dan sudah berhasil memikat banyak orang dengan karakternya sendiri!

Di album perdananya Landscape yang rilis Juni lalu, Peonies menjadi gebrakan bagi penikmat indie lokal. Dengan keunikannya, mereka bahkan udah menggelar konser di Korea Selatan bulan Oktober lalu loh! Apa yang ditawarkan Peonies sangat sederhana, irama yang repetitif, vokal yang tenggelam, juga lirik yang jelas namun terdengar begitu jenius, mereka pun berhasil membuat kita larut dalam euforianya! Biar kamu ikutan tenggelam juga, langsung putar “Wednesday”, “Summer”, dan “Whispering (All The Colours)”! (Mahsa Islamey)

 

9

Red Hot Chilli Peppers // The Getaway

Bukan tidak asing lagi, Red Hot Chili Peppers sudah sangat pantas disebut legenda. Band asal Amerika yang berbasis funk­ rock jebolan tahun 80-an ini sepertinya sudah terbiasa gonta-ganti personil yang hingga sekarang hanya menyisakan Anthony sang vokalis juga the one and only, Flea pada bass sebagai personil original. Tidak seperti band rock lain di angkatannya seperti Incubus yang cukup terlihat perubahan musiknya, The Peppers nampak masih berpegang teguh pada prinsip funk rock­-nya setelah tiga puluh tahun berkarya.

Kali ini, The Getaway, masih berbumbu khas Red Hot Chili Peppers dengan petikan bass Flea yang begitu agung dan masih setia menemani. Namun, terdengar beberapa perbedaan seperti pada track “The Hunter” dan “Feasting on the Flowers” yang lebih bernuansa psychedelic. Album ke-11 nya ini menunjukkan keseriusan The Peppers dalam bermusik, “you don’t know my mind, you don’t know my kind.” Begitu yang disampaikan oleh The Peppers dalam track “Dark Necessities” sebagai bentuk sindiran pada haters-nya. Kalo kamu penasaran dengan album ini, langsung dengerin notable tracks mereka ini: “The Getaway”, “Dark Necessities”, dan “Sick Love”. (Mahsa Islamey)

 

 

JULI

10

Russian Circles // Guidance

Setelah ngeluarin 5 album dan 1 EP instrumental dengan tema yang berbeda-beda, band post-metal asal US, Russian Circles, ini merilis Guidance. Dilis pada 5 agustus 2016 oleh label Sargent House, album ini berisikan 7 buah tracks yang dijamin nggak akan bikin pendengar bosan. Walau Russian Circles beranggotakan 3 personil, album yang mereka garap ini bisa nemenin temen ngeBLUR dengan keramaian dan juga kehebatannya. Russian Circles bagaikan dewa-dewa yang mampu bikin album Guidance jadi salah satu dari pilihan-pilihan album terbaik di 2016 ini. (Ade Kurniawan)

 

 

AGUSTUS

11

Frank Ocean // Blonde

Emotion is inevitable. Sempat dikabarkan akan dirilis pada tahun 2015, Frank Ocean merilis album keduanya pada bulan Agustus 2016 kemarin. Agak berbeda dengan album pertamanya Channel Orange, lagu-lagu di album ini tidak terdengar seperti lagu-lagu pop – R&B biasa. Musik yang dibawakan Frank Ocean di Blonde terasa jauh lebih personal, minimalis dan ambient dari sebelum-sebelumnya.

André 3000, personil legendaris duo OutKast, hadir kembali di album ini setelah sukses berkolaborasi dalam Pink Matter pada tahun 2012. Lagu yang berjudul “Solo (Reprise)” really caught you off guard. Di lagu yang hanya berdurasi 1:18, André 3000 mengobrak-ngabrik instrument chords organ yang mirip track kelima “Solo”. Dan nggak Cuma André 3000 yang berkontribusi dalam pembuatan album ini. Salah satu yang bisa dijadikan track favorit, “Pink + White”, produksinya dibantu oleh pemenang 10 Grammy Awards, Pharrell Williams. Di lagu ini juga terdapat heavenly dari Beyoncé! Diiringi dengan gitar yang dreamy dan melodic, “Ivy” mengeksplor kesalahan dan kegagalan dalam hubungan Frank Ocean di masa lampau. Pada pertengahan akhir “Seigried”, Frank Ocean membuktikan bahwa ia memang seorang artis. Dia jujur, puitis dan genuine.

Album yang terdiri dari 17 buah lagu berdurasi 60:08 ini terasa comforting meskipun sarat emosi. Banyak hal yang Frank Ocean ingin ceritakan dalam Blonde ini dari seksualitasnya hingga… go figure! (Prihatur Setya Putra)

 

 

SEPTEMBER

12

 Solange // A Seat at the Table

“This album is meant to provoke healing and the journey of self-empowerment” – Solange, pada twitternya. Solange adalah seorang penyanyi asal Houston, Texas, Amerika Serikat yang kebetulan merupakan adik kandung dari Beyoncé. Jika kalian pikir bahwa Solange adalah “diskon” Beyonce, kalian salah besar! A Seat A The Table menawarkan musik  Neo-Soul dan Alternative R&B. Album ketiga dari Solange ini terdengar powerful, hangat dan elegan. Diiringi dengan kualitas suara Solange, “Rise” terdengar seperti jatuh dari surga. Pada “Cranes in the Sky” Solange menceritakan tentang cara dia menghindari perasaan pedih, coping with stress, and well, most of you guys could relate. “Rise”, Meskipun konteksnya bercerita tentang sedihnya lika-liku orang berkulit hitam di Amerika Serikat serta berunsur politis, “Mad” dan “Don’t Touch My Hair” bisa membuat kalian joget-joget pundak. Jika kalian bertanya-tanya tentang album apa yang bisa berpengaruh terhadap mengurangnya sikap rasisme orang-orang di dunia ini untuk masa yang akan datang, A Seat A The Table mungkin adalah salah satu jawabannya. (Prihatur Setya Putra)

 

13

The Trees and the Wild // Zaman, Zaman

Masih inget sama album fenomenal Rasuk dari The Trees and the Wild yang dirilis tahun 2009 lalu? Nah, tepat pada September 2016 kemarin, TTATW baru aja rilis albumnya: Zaman, Zaman. Kalo kalian udah khatam sama album Rasuk, mungkin kalian butuh penyesuaian terlebih dulu buat dengerin album Zaman, Zaman dikarenain ada perubahan drastis dari gaya musik yang ditonjolin TTATW. Kalo Rasuk lebih cenderung ber-genre folk, Zaman, Zaman bisa disebut bermain ke arah post-rock. Dengan tracks keren kayak “Tuah/Sebak” dan “Empati Tamako,” album ini cocok banget buat nemenin kalian ngejalanin hari-hari, entah itu di saat santai-santai di kala hujan gerimis ataupun di perjalanan kalian di tengah malam. (Aldi Sultan)

 

 

OKTOBER

14

The Radio Dept. // Running Out of Love

Lama menunggu racikan album baru The Radio Dept.? 6 tahun penantian kamu nggak sia-sia! Mungkin pula, 6 tahun adalah durasi yang tepat untuk menghidupkan kembali euforia band asal Swedia ini. Running Out of Love, hadir dengan ramuan konsisten ciri khas musik dan lirik yang bikin kita gampang mengenal identitas pemilik lagu-lagu tersebut. Cara unik dalam membawakan kritik dengan ritme yang rapi dan fun tentu merupakan sebuah jurus jitu yang gak membosankan untuk ‘ikut’ mendengar emosi yang ingin disampaikan Johan Duncanson dan Martin Larsson.

Dikeluarkannya kritik politik manis berjudul “Swedish Guns” sebelum albumnya adalah starter apik  untuk mengenalkan isi keseluruhan dari Running Out of Love; baik dari segi komposisi musik dan lirik. Ah, dan “Bound to Happen” yang berasal dari Rarities alias unreleased songs pun ‘bereinkarnasi’ di album ini dengan bertambah titel “This Thing Was Bound to Happen”. Kalo disuruh pilih lagu mana yang wajib diunggulkan, rasanya tidak adil untuk menganak emaskan salah satu diantara deretan tracklist album ini. Tapi kalo mau kenalan, langsung aja dengerin “Committed to The Cause”! (Ezy Ramanedia)

 

 

NOVEMBER

15

Eva Celia // And so It Begins

This album is a Peace of Mind. Eva Celia merilis album pertamanya pada tanggal 8 Desember kemarin yang berjudul And so It Begins. Terdiri dari 8 buah lagu yang berdurasi 33 menit, Eva Celia membawakan musik pop-jazz yang penuh warna. Pembawaan gadis berumur 24 tahun ini terdengar dewasa dan suara vokalnya yang lembut membuat kita makin jatuh hati. Dari awal sampai akhir, nuansa albumnya sangat kalem dan menenangkan. “Reason”, “And so It Begins”, ”Another You” dan ”Against Time” wajib banget untuk diputar dalam rotasi playlist kalian! Lantunan lagu-lagu berbahasa Inggris ini sangat pas untuk mengisi background saat baca-baca santai sampai fokus sekalipun. Album ini terasa seperti udara segar di industri musik Indonesia dan semoga kedepannya kita bisa mendengar lebih banyak musik baru dari Eva Celia! (Prihatur Setya Putra)

 

16

Bruno Mars // 24K Magic

Bruno Mars is back! Yaass! setelah nunggu bertahun-tahun, akhirnya Bruno merilis albumnya yang ketiga pada bulan November lalu. Album yang berjudul 24K Magic ini memiliki nuansa yang berbeda dibanding album sebelumnya, karena di album ini kental banget dengan nuansa musik-musik tahun 80 dan 90-an. Feel yang bakal kalian dapetin saat denger beberapa lagu di album ini seperti “Versace On The Floor”, “Too Good To Say Goodbye”,  “Calling All My Lovelies” sama kayak pas kalian dengerin album dari Zapp & Boyz II Men karena lirik dan melodinya yang romantis. Banyak yang bilang 24K Magic adalah album terbaik dari Bruno Mars, tapi banyak juga yang menyayangkan karena di album ini hanya ada sembilan lagu. (Roshan Ghaisani)

 

 

DESEMBER

17

Vira Talisa // Vira Talisa

Di penghujung 2016 ini, satu lagi soloist cewek baru muncul buat ngeramein belantika musik Indonesia. Yak, mari kita kasih sambutan yang meriah buat Vira Talisa!. Tepat 2 Desember 2016 ini, doi baru aja rilis EP self-titlednya yang dirilis oleh Orange Cliff Records. Konsep yang simpel dan minimalis diusung doi buat EP pertamanya. Semua lagu yang ada di EP ini ditulis sendiri sama Vira Talisa, dan dibantu Romain Baousson di bagian aransemen, rekaman, dan juga mixing. Ada Julien Courtois buat proses mastering dan mixing yang dikerjain di Rennes, Perancis, terus juga ada Kendra Ahimsa alias Ardneks di bagian artwork EP ini. EP ini terdiri dari 5 lagu yang sebenernya udah dirilis di Soundcloud Vira Talisa, tapi diaransemen ulang dengan konsep yang lebih mateng dan proper. “Walking Back Home” merupakan track favorit dari EP ini. Suara merdu Vira serta musiknya yang menyenangkan cukup membuat kita jatuh cinta sama lagu ini cukup dengan sekali dengar. Vira Talisa mampu jadi calon “the next big thing” tahun 2017 mendatang. (Aldi Sultan)

credit-music-director