Kalau ngomongin bianglala teh jadi pengen ke dufan euy. Mumpung lagi ada promo, tapi tetep weh mahal. Ujung-ujungnya mah cuma mampu ke pasar malem. Lumayan bisa naik bianglala. Tapi bianglala-nya pake sistem manual—diputerin sama mamangnya—jadi rotasi bianglala-nya sendiri gak menentu (kadang ngebut, kadang pelan) gimana coba rasanya? Bukannya menikmati, malah jadi pusing. Ah udah lah, saya gak akan ngomongin serunya pasar malem. Tapi saya mau ngomongin sesuatu yang berhubungan bianglala. Asli.

Bianglala. Rasanya kalau ngomongin bianglala identik dengan suasana kalem, syahdu, dan berkesan manis. Tapi, Uncanny justru meleburkan presepsi bianglala tersebut. Bisa dibilang sebuah implementasi bianglala yang mantap dari Uncanny—beurat—dalam EP perdananya bertajuk “Ferris Wheel” menghilangkan esensi bianglala yang kalem itu. Gimana enggak? Baru mendengar intro-nya saja, bianglala akan terasa lebih ber-adrenalin tinggi, daripada terkesan kalem dan syahdu.

Saya termasuk orang yang beruntung sempat mengalami awal mula munculnya Uncanny di Jatinangor. Ketika pertama kali melihat band ini tampil di sebuah gigs kecil dan intim—di kampus FIB yang dulunya dikenal dengan nama Sastra—dan kebetulan menjadi perform perdana dari Uncanny saat itu, sangat tidak disangka akhirnya band ini berhasil merilis EP yang cukup membuat emosi pendengarnya, termasuk saya. Tepatnya, 10 September 2016 (lalu) Uncanny merilis EP perdananya bersama Cut Your Ears! (CYE!) Records, sebuah records label asal Jatinangor yang merupakan barudak kampus FIB juga, menjadikan Uncanny sebagai roster pertama mereka.

Trio yang terdiri dari Suryo (vokal, gitar), Indra (bass), dan Athif (drum), menjadikan Uncanny sebagai sebuah band bernuansa indie rock/noise. Dalam EP “Ferris Wheel”, mereka menggabungkan emosi yang berbeda-beda dan memberikan atmosfer yang naik-turun secara perlahan kepada pendengarnya. Dan, dari emosi mereka bertiga itu lah yang membuat EP ini lahir ke permukaan. Pendengar akan disuguhkan dengan berbagai nomor seperti,  “Savvy Bloke”, “Conform”, “Avalanche”, “Back and Forth”, dan “Battle of The Minds”—yang akan membuat kamu terbawa emosi secara perlahan dan lalu meledak.

Sebuah rilisan rasanya kurang “berasa” kalau tidak berbentuk fisik. Dan, Uncanny dan CYE! Records tentu menyadari hal itu dengan merilis EP “Ferris Wheel” dalam format kaset. Eh, emang sekarang masih jaman muterin lagu lewat kaset? Ya iya atuh, justru kaset adalah bentuk pelestarian rilisan fisik yang mesti dijaga. Media pemutar kaset pun gak susah dicari kok di jaman yang serba digital saat ini—eh saya gak ngomongin jajanrock—tapi kalau mau jajanrock silakan beli kaset “Ferris Wheel”-nya Uncanny melalui CYE! Records. Tenang, kalau kamu pengen yang simple, Ferris Wheel juga tersedia dalam format digital dan bisa streaming disini!