Crowd

“Hidup adalah konser” Kalo kata Arian 13

Sabtu siang kemarin (28/5), matahari sedang terik-teriknya menyoroti kota Bandung. Cuaca panas yang mendukung justru membuat saya begitu ‘mager’ untuk beranjak dari kamar. Tapi melihat line-up artis yang akan tampil di konser hari itu sangat disayangkan untuk dilewatkan. Semangat untuk datang ke konser A Create akhirnya datang karena ajakan teman. Selain line-up artis yang memiliki daya gravitasi untuk bangun dari kasur, konser tersebut juga menarik badan saya untuk datang karena gak dipungut biaya alias gratis. Destinasi yang pas untuk menghabiskan waktu malam minggu saya dan teman-teman sebagai anak kosan.

Dalam perjalanan menuju Cicaheum—tempat berlangsungnya konser—cuaca bisa dibilang hampir 32° Celcius. Dehidrasi di perjalanan membuat saya berhenti di salah satu mini market yang telah menjamur di setiap sudut jalan. Ketika saya membeli minuman, dua orang kawula muda yang hendak membayar sebungkus rokok—kebetulan produk sponsor konser hari itu—berucap “Selow heula bro panas keneh.” (Santai dulu bro masih panas.) kata seorang pemuda dengan sepatu vans-nya (yang sepertinya memiliki tujuan yang sama dengan saya).

Setelah menenggak minuman jeruk yang saya beli, dehidrasi mulai berkurang. Perjalanan menuju TKP pun saya lanjutkan. Sesampainya di tempat konser, banyak kawula muda dan mudi duduk-duduk di depan pintu masuk. “Belum delapan belas euy gak boleh masuk!” Ucap seorang anak muda yang sepertinya masih SMA. Aturan tetap aturan demi lancarnya konser walaupun pemuda tersebut merasa kecewa.

Kawasan pabrik tekstil yang sudah tidak terpakai lagi menjadi area konser hari itu. Venue yang sangat tidak biasanya untuk menjadi tempat pergelaran konser. Namun diluar dugaan, kawasan bekas pabrik tersebut disulap menjadi arena konser yang enak dipandang. Beberapa stand makanan, stand clothing dan tentunya stand produk sponsor utama acara tersebut telihat di setiap sisi area venue. Dari pada itu, ada salah satu area yang menarik perhatian saya. Di sisi kiri area panggung terdapat seniman mural atau graffiti yang sedang menyalurkan kreativitasnya. Pemandangan stage mulai diisi oleh kuartet  asal Bandung yakni Lizzie sekitar pukul 2 siang.

Grup band yang telah merilis kaset pada Records Store Day beberapa waktu lalu, membawakan nomor andalannya seperti “Dead River” dan “Lust Slaver”. Setelah crowd dihajar oleh Lizzie plus teriknya matahari, giliran Heals mendapat kesempatannya untuk tampil di atas stage siang itu. Grup beraliran shoegaze dengan bassist yang menarik perhatian crowd ini, membawakan lagu-lagu andalannya seperti “Void” dan “Wave” (yang baru saja rilis bulan lalu). Pasca Heals tampil, giliran The Fox and The Thieves tampil menunjukan keliarannya diatas panggung dengan lagu-lagunya yang berjudul “Foxes” dan “Manipuators March”.

Payung Teduh

Sore mulai menjelang, di luar dugaan cuaca mulai meredup seakan hendak diguyur hujan. Namun, perkiraan hujan ternyata salah dan cuaca justru berubah menjadi sangat melankolis sore itu. Saat itu pula crowd diajak bernostalgia bersama grup indie pop ternama Pure Saturday. Setelah Pure Saturday, Is dkk yang tergabung dalam grup folk Payung Teduh tampil membuat adem kawula muda yang kebanyakan berpasangan. Lagu “Menuju Senja” menjadi lagu penutup yang pas sore itu.

Under The Big Bright Yellow Sun

Pasca rehat magrib, stage kembali diisi oleh grup yang sudah tidak asing lagi yakni Under The Big Bright Yellow Sun. Namun kali ini, grup post-rock tampil agak asing. Malam itu, UTBBYS tampil dengan kolaborasi instrument biola string quartet. Hasilnya diluar dugaan, kolaborasi nomor andalan seperti “Ironic” dan “Threshold” menjadi lebih berwarna dengan instrument biola tersebut. Setelah penampilan UTBBYS, grup kolaborasi juga mewarnai stage malam itu. Grup psychedelic rock Sigmun berkolaborasi dengan grup folk-acoustic Tigapagi. Menurut saya pribadi, kolaborasi ini sangat nge-blend dan berhasil membuat crowd berdecak kagum. Nomor-nomor andalan seperti “Happy Birthday” milik Tigapagi, “Devil in Disguise” milik Sigmun menjadi lagu andalan dalam kolaborasi Sigmun x Tigapagi malam itu.

Sigmun x Tigapagi

The Adams

Setelah dibuat kagum oleh penampilan Sigmun dan Tigapagi, giliran grup power pop asal Jakarta, The Adams tampil malam itu. Kuartet yang terdiri dari Ario, Ale, Pandu dan Gigih ini menjadi penantian yang sudah ditunggu lama oleh kawula muda Bandung malam itu. Tentu saja, The Adams memberikan suguhan lagu-lagu yang berkesan malam itu seperti “Berwisata”, “Hanya Kau” dan “Konservatif. Penantian lama kawula Bandung akhirnya terpuaskan dengan lagu penutup mereka “Halo Beni” yang membuat semua crowd sing along.

The Sigit

Lagu-lagu berjudul “Detourn”, “Conundrum”, “Allright” dan “Black Amplifier” menjadi lagu yang menutup gelaran konser malam itu. Nomor-nomor andalan The S.I.G.I.T malam itu membuat Insurgent Army terpuaskan dengan penampilan Rekti dkk pasca pulang dari tour Australia-nya. Konser malam itu menjadi ritual malam minggu yang sangat wajib untuk dilakukan oleh kawula muda mudi Bandung. Euforia tersebut nyatanya masih terasa singkat untuk kawula muda mudi yang akan selalu haus dengan konser musik.

credit